Pembangunan Tol dan Sentimen Bukalapak Serta Revolusi Mental

Revolusi mental sebuah kata-kata yang digaungkan oleh Jokowi pada kampanye 2014. Ya hal ini berhasil mendapat perhatian hangat dari masyarakat. Namun sayang seiring waktu hal ini meredup bersama terpilihnya Jokowi sebagai Presiden. Bahkan pada kampanye 2019 ini nyaris tak lagi diperdengarkan.

Artikel ini Spesial karena saya sebagai Pemred Faktor hukum yang harusnya netral dan ingin tetap menjadi netral, terbawa suasana serta keadaan untuk mengulas kembali REVOLUSI MENTAL. Saya sadar Kampanye memang ajang menebar janji untuk meraih simpati, perkara ditepati atau tidak adalah urusan nanti. Akan tetapi hal ini jadi sebuah dilema dimana sebuah kepercayaan yang harus dipertahankan. Revolusi mental yang digadang gadang berubah menjadi revolusi fisik seperti jalan tol, walaupun ini hanyalah pelaksanaan rencana dari era Orba.

Tak ada program nyata dari program pemerintah tentang revolusi mental. Tak bisa dipungkiri hal ini telah kehilangan esensi. Dalam kasus terbaru yakni sentimen “Bukalapak” terkesan anti kritik dan dilancarkan oleh pendukung Jokowi pencetus Revolusi Mental. Zaky seorang CEO Ecomerce Bukalapak yang mengkritik Biaya riset pemerintah dan menuliskan kata “Presiden baru”, langsung disambut tagar UnistalBukalapak dan Hujatan. Sebuah ironi padahal kritik diperbolehkan hukum dan Konstitusi.

Tak mau kehilangan momentum pendukung oposisi membuat tagar UnistalJokowi, inikah yang dinamakan revolusi mental? Rakyat terjebak fanatisme semu terjebak kebencian dan memecah persatuan. Sungguh mengecewakan, walau Zaky sang CEO bukalapak juga salah kritik. Pertama salah jika Riset bukalanlah harus dari pemerintah, dan kedua salah jika riset maju maka perang harga lantas berkurang. Karena Soal perang harga lebih kepada prilaku konsumen dan penawaran yang ada.

Penulis sepenuhnya sadar akan perang harga ini mengingat penulis juga pernah menjadi Marketing Relation sebuah ecomerce, sebelum banting stir menjadi Lawyer. Sadar bahwa hampir tidak ada Ecomerce Indonesia yang memperoleh laba dan palah terus merugi, sadar bahwa ecomerce masih membakar uang untuk market share termasuk Bukalapak. Diperparah hal ini tak kunjung membaik tiap tahunnya.

Kembali ke Revolusi mental, Pendukung Presiden Jokowi terlalu fanatis. Menganggap keberhasilan Bukalapak adalah karena Jokowi. Padahal bukalapak sudah ada sejak Era SBY yakni tahun 2010. Promosi yang dilakukan Jokowi ke Bukalapak adalah simbiosis mutualisme, Jokowi memperoleh branding peduli Ecomerce Bukalapak dapat publikasi lebih. Bukan keuntungan Sepihak ! Lalu sekali lagi Apa Hujatan ini hasil Revolusi mental ?

Perlu diingat juga bahwa Bukalapak belumlah berhasil, meski berstatus unicorn namun masih merugi sehingga status ini bisa hilang kapan saja. Hal tersebut juga berlaku pada perusahaan Unicorn lain yang terus menerus masih merugi. Anehnya lagi Bahkan Tokoh kampanye resmi Jokowi menyebut Zaky Bukalapak Kacang Lupa Kulitnya pula. Pertanyaan saya Kacang dan kulit yang Mana ?


Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *