Suka Tidak Suka Anggaran Riset Indonesia Masih Rendah

Heboh pernyataan CEO Bukalapak tentang minimnya anggaran R&D di Indonesia membuat para netizen banyak berkomentar. Jadi berapa sebenarnya anggaran Riset dan pengembangan di Indonesia ? Sudahkah layak kami akan sedikit menguliknya. Anggaran R&D yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 hanya sekitar 0,02 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) saat ini. Anggaran Dana Riset Nasional yang ditetapkan pada APBD 2018 sebesar Rp 24,9 triliun. Untuk APBN 2019, anggaran R&D kurang lebih masih sama .

Kemenristekdikti, ada alokasi sebesar Rp 41,3 triliun yang diperuntukan bagi keseluruhan aktivitas kementerian. Kemenristekdikti menganggarkan biaya riset dan inovasi “hanya” sebesar Rp 1,7 triliun atau sekitar 4,2 persen dari total anggaran yang diterima.

Anggaran 0,02 persen dari PDB tersebut tentu terbilang minim dan sangat kecil bila dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk di Asia. Seperti Malaysia yang kini sudah mencapai 1,25 persen, Singapura (2,20 persen), Cina (2,0 persen), Jepang (3,60 persen), dan Korea Selatan (4,0 persen).

Kemenristekdikti sendiri mengakui penguatan riset dan pengembangan memang masih terkendala minimnya dana. Padahal cita-cita Indonesia pada 2045 akan menjadi negara maju. Jumlah dana riset itu masih minim atau kecil sekali. Malaysia saja anggarannya sudah di atas 1 persen, Korea saat ini anggaran riset sudah capai 4,5 persen.

Dari sisi jumlah karya ilmiah orang Indonesia di jurnal internasional, secara perbandingan antar negara masih memprihatinkan. Masih sangat minim. Pada 2015 ada 5.421 dan sudah melebih target ditetapkan sebanyak 5.008. Indonesia ada di tangga nomor 52 dari total 229 negara. Dibanding Singapura saja Indonesia kalah telak. Jadi memang anggaran riset di Indonesia suka tidak suka masih rendah dan tertinggal sehingga butuh banyak perhatian.


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *