Catat ! Debt Collector Tidak Bisa Sita Barang

Maraknya Debt Collector melakukan penyitaan barang menjadi hal yang lumrah. Padahal hal tersebut sebetulnya melanggar hukum, karena penyitaan hanya bisa melalui putusan pengadilan. Lebih lanjut debt collector yang mendapat kuasa menagih utang dari kreditur tidak boleh menyita paksa barang-barang milik debitur. Ini dikarenakan pada prinsipnya penyitaan barang-barang milik debitur yang wanprestasi hanya bisa dilakukan atas dasar putusan pengadilan.

Terlebih barang-barang yang terdapat di dalam rumah tersebut boleh jadi statusnya adalah harta bersama yaitu dimiliki bersama dengan istrinya. Seperti diketahui, dalam suatu perkawinan terjadi percampuran harta, kecuali dalam hal adanya perjanjian kawin yaitu perjanjian pisah harta (prenuptial agreement). Demikian sesuai ketentuan Pasal 35 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Maka tidak bisa langsung melakukan penyitaan tanpa pemeriksaan harta terlebih dahulu. Singkatnya debt collector tidak dapat melakukan sita barang.

Jika kemudian, jika debt collector tersebut tetap menyita atau mengambil secara paksa barang-barang milik debitur secara melawan hukum maka yang bersangkutan atau keluarganya dapat melaporkan debt collector tersebut ke polisi. Perbuatan debt collector tersebut dapat dijerat dengan perbuatan tidak menyenangkan juga bisa menggunakan Pasal 362 KUHP tentang pencurian atau jika dilakukan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan maka bisa dijerat dengan Pasal 365 ayat (1) KUHP. Demikian penjelasan kami semoga berguna bagi teman-teman pembaca.


Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. jaket kulit berkata:

    Terima kasih atas penjelasanya bagi saya yang awan dan tidak faham hukum ini sangat membantu..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *