Elektabilitas Jokowi Turun Karena Salah Branding dan Ulah Pendukung

Pemilu dan Pilpres semakin dekat suhu politik pun kian memanas. Namun ada satu hal yang menarik terjadi, hal itu adalah menurunnya elektabilitas Jokowi. Sebagai pertahana Jokowi seharusnya kuat di era Negara Presidentil. Namun faktanya terbalik semakin hari elektabilitas Jokowi semakin turun.

Jika hal ini terjadi tentu adalah juga kekalahan beruntun PDIP sebagai pertahana. Jika mau ditelisik ada beberapa hal penyebab turunnya elektabilitas Jokowi, namun yang paling menonjol ialah karena salah Branding dan Ulah pendukung.

Disisi branding jualan utama Jokowi ialah Humanis dan merakyat. Namun yang belakangan dipertontonkan ialah lebih kearah otoriter. Tegas tentu diperlukan Namun terlalu tegas akan terlihat bringas. Hal seperti ditangkapnya lawan politik maupun kontroversi undang – udang mewarnai perubahan branding Jokowi.

Ini adalah hal yang salah, memang bukan berarti oposisi yang berbuat salah tidak layak dipenjarakan . Tetapi jika kesalahan kecil dipenjara maka akan terlihat otoriter. Disisi lain pasal penghinaan presiden yang dibatalkan MK dan dimunculkan kembali, layaknya senjata makan tuan yang membuat rakyat semakin tidak simpatik dengan banyaknya orang yang ditangkap. Jokowi tampaknya meniru Demokrasi ala Singapura dengan sentuhan Lebih Tegas, kesalahanya ialah ini Indonesia negara besar dengan beribu perbedaan bukan Singapura.

Disisi pendukung blunder bertubi tubi dilakukan, seperti PSI yang terus menerus membuat kontroversi sampai tertangkapnya kasus jual beli jabatan. Ini secara langsung menggerogoti Jokowi. Belum lagi pernyataan pendukung tentang tol, agama maupun hal lain yang kontra produktif. Padahal ini adalah tahun politik, kesalahan kecil bisa sangat mempengaruhi keterpilihan. Hal ini juga diperparah ekonomi yang tidak cemerlang melengkapi kejatuhan elektabilitas Jokowi.

Masih ada waktu sekitar setengah bulan, dengan keadaan yang masih imbang tentu peluang bagi Jokowi masih terbuka. Asal mau memperbaiki citra kembali seperti semula, merapatkan barisan pendukung agar tidak melakukan blunder maka kemenangan masih jelas ada. Namun jika tidak maka kekalahan sudah nampak sangat jelas terlihat didepan mata.


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *