Ketika Militansi Pendukung Menjadi Ujung Tombak Kemenangan Pemilu

Militansi pendukung adalah suatu wujud kecintaan sekaligus fanatisme kepada seseorang yang didukungnya. Hal inilah yang sering membuat survei tak berarti dan ancap kali meleset jauh. Pada Pemilu Indonesia 2019 hal ini sangatlah nampak dan dapat diperlihatkan secara jelas militansi tersebut. Militansi yang kuat dari pendukung, dapat menjadi ujung tombak penentu kemenangan. Bahkan manuver politik dari atasan sering kali tidak menjadi pedoman bagi para pendukungnya sendiri.

Untuk menguji militansi, kami membuat poling sederhana di FB. Hasilnya adalah suatu yang mengagetkan, kami juga telah menyebar poling di grub- grub kedua pendukung Calon peserta Pemilu dengan pilihan Jokowi dan Prabowo. Hasil poling kami Jokowi cuma mendapat 4% sementara prabowo 96%. Tentu hal ini sangat jauh dari kenyataan di lapangan, namun menunjukan militansi pendukung Prabowo sangatlah tinggi. Hal ini patut diwaspadai lawan tentunya yakni Kubu Jokowi.

(Baca Juga : Jokowi Masih Didepan Namun Prabowo Semakin Meroket)

Pendukung Jokowi terkesan yang penting saya mendukung, sehingga tidak mengajak dan membagikan polling kami di FB. Sekali lagi hasil ini jauh dari keadaan sebenarnya bahkan dari Survei internal kami dimana Jokowi masih Unggul. Namun hal yang menarik ialah dalam temuan kami sama – sama banyak orang yang enggan menjawab maupun memilih baik di FB maupun survei asli mengenai pilihan Pilpres.

Dalam survei karena keterbatasan dana, sebagai penyurvei lapangan kami berkerjasama dengan kenalan kami berbagai pendukung dari beberapa Partai untuk melakukan penyurveian. Tetapi telah kami wanti-wanti untuk kenetralan dalam survei di beberapa provinsi ini, survei kami bersifat nasional namun minus beberapa tempat seperti pulau Papua dan Maluku serta lainnya. Kami menyurvei baik untuk Pilpres maupun Pileg pada pemilu 2019 ini. Hasil yang kami sampaikan adalah sebagian, ini karena kami bukan pemilik informasi seutuhnya dibatasi dan perlu izin bersama untuk menyebarkan secara umum.

Hasilnya Pilpres adalah Jokowi 42% dan Prabowo 39% dengan yang tidak mau menjawab untuk berbagai alasan mengenai Pilpres ialah 19%, temuan yang enggan menjawab Bukan angka sedikit. Kami menggunakan error margin 3.8% dan 2800 responden, namun sekali lagi kami bukanlah pihak berpengalaman juga menggunakan pendukung sebagai penyurvei. Sehingga survei kami sulit bisa dijadikan pedoman.

Angka keengganan untuk menjawab survei tinggi entah kesalahkan dalam cara survei kami atau memang itu keaadaan lapangan. Tapi polling FB kami juga sama, banyak orang yang dijangkau poling namun hanya sedikit yang mau memberi suara. Bila ini cerminan kondisi lapangan tentu ada yang salah dengan demokrasi kita. Karena secara tidak langsung kemungkinan angka golput akan meningkat.

Penyebabnya bisa saja terjadi karena Pilpres kali ini dianggap kurang menjembatani keinginan Rakyat atau terbatasnya Pilihan. Untuk Pileg yang mau menjawab sebesar 92% melebihi Pilpres, dengan rincian data tidak dapat kami sebutkan. Temuan kami yang lain ialah para pemilih Jokowi di Pemilu 2014 lalu banyak yang tidak mau menjawab. Entah karena alasan Bimbang, kerahasiaan pilihan atau hal lainnya. Tentu ini harus diwaspadai oleh Kubu Jokowi karena bila salah langkah mungkin saja pendukung yang bimbang atau tidak menjawab Pada Survei ini maupun lainnya akan lari. Karena dalam sisi temuan kami Militansi dan keteguhan pendukung kubu 02 Prabowo sangat tinggi dan yakin dalam pilihannya.


Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *