Penguatan Dolar AS dan Harga Minyak Meneror Rupiah

Rupiah tidak mampu membendung gempuran penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak. Padahal kala pembukaan pasar, rupiah masih mampu menguat 0,1%. Penguatan itu cukup untuk membawa rupiah menjadi yang terbaik di Asia. 

Namun rupiah tidak mampu bertahan lama di zona hijau. Apresiasi rupiah menipis dan akhirnya habis, meski belum masuk ke zona merah. Memang sulit bagi mata uang Tanah Air untuk terus menguat. Sebelumnya, rupiah sudah menguat selama tiga hari beruntun. Dalam periode tersebut, apresiasi rupiah hampir menyentuh 1%. 

Penyebabnya ada tekanan duet maut penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak.  Minyak dunia pagi tadi sempat naik di kisaran 1%. Penyebabnya adalah tensi yang meninggi di Timur Tengah.  

Tensi yang meninggi di Timur Tengah dikhawatirkan terus tereskalasi dan berujung pada agresi militer alias perang. Namun jika terjadi perang, maka pasokan minyak akan terhambat karena Timur Tengah adalah kawasan penghasil minyak terbesar di dunia. Tidak heran harga minyak naik lumayan tajam. 

Kenaikan harga minyak bukan kabar baik buat rupiah. Sebab Indonesia adalah negara net importir minyak, yang suka tidak suka harus mengimpor demi memenuhi kebutuhan dalam negeri. Saat harga minyak naik, maka biaya importasi komoditas ini akan semakin mahal.

Akibatnya beban neraca perdagangan dan transaksi berjalan menjadi bertambah berat. Tanpa sokongan devisa yang memadai dari sektor perdagangan, rupiah menjadi rapuh dan rentan tertekan jatuh. 


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *