Penikaman Wiranto dan Kekerasan Terhadap Sejumlah Pejabat Indonesia Dalam Rangkuman Sejarah

Penikaman terhadap Menko Polhukam Wiranto membuat geger publik Indonesia. Kejadian bermula saat pelaku Syahrial Alamansyah (31) mendekati Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto yang baru saja turun dari mobil di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banteng.

Kejadian yang berlangsung cepat ini nampak Syahrial Alamansyah yang berpura-pura bersalaman lantas menikam Menko Wiranto. Dalam kejadian ini pelaku yang tidak sendirian, ia bersama sang istri yang juga melukai beberapa polisi yang saat itu mencoba mengamankan.

Pelaku sendiri Syahrial Alamansyah kemudian diketahui adalah seorang lulusan Sarjana Hukum yang rumahnya menjadi korban penggusuran tol era Jokowi. Pelaku juga diduga terlibat jaringan JAD dan IS, yang semakin membuat bingung motif penusukan oleh pelaku.

Namun kejadian dimana pejabat dilukai secara fisik sudah terangkum beberapa kali terjadi di Indonesia. Dahulu Wakil Ketua MPR (1999-2001) Matori Abdul Djalil politisi asal Salatiga juga pernah mengalami pembacokan di rumahnya. Bahkan di era awal kemerdekaan banyak kejadian yang serupa bahkan lebih parah.

Dalam mengatasinya perlu tindakan menyeluruh untuk mengatasi hal seperi ini, karena berbeda era berbeda pula motif dari tindakan kekerasan terhadap pejabat. Karena dengan diketahui motif sebenarnya menggunakan kajian kriminologi maka kedepan dapat dilakukan pencegahan. Memang dalam kejadian Menko Wiranto pelaku terindikasi termasuk jaringan JAD dan IS namun perlu diketahui juga pelaku juga adalah korban dari penggusuran tol.

Karena bisa saja pelaku akhirnya bergabung dengan JAD dan IS karena dendam penggusuran, sebab tidak semua korban gusur menjadi kaya karena penggusuran. Bagaimana jika ternyata rumah pelaku yang tergusur kecil (kurang dari 100 meter bahkan 50 meter persegi) dan walau akhirnya menerima ganti rugi gusuran yang sesuai, namun uang ganti rugi yang diterima tidak bisa untuk membeli rumah kembali.

Tentu penanganan untuk pencegahan selanjutnya berbeda dari yang murni JAD atau IS dan yang bermotif ekonomi. Sehingga penelusuran dan pengungkapan secara menyeluruh serta harus jelas diperlukan dalam kasus ini.


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *