Perbedaan Alat Bukti dan Barang Bukti

Kita sering mendapati istilah Alat bukti dan Barang bukti, namun taukah perbedaannya ? Karena banyak yang belum paham, untuk itu kali ini kami akan membahas tentang perbedaan Alat bukti dan Barang bukti.

Dalam Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (”KUHAP”) disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah : keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.

Menurut Martiman Prodjohamidjojo dalam sistem pembuktian hukum acara pidana yang menganut stelsel negatief wettelijk, hanya alat-alat bukti yang sah menurut undang-undang yang dapat dipergunakan untuk pembuktian. Hal ini berarti bahwa di luar dari ketentuan tersebut tidak dapat dipergunakan sebagai alat bukti yang sah.

Sedangkan untuk pengertian barang bukti. Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana memang tidak menyebutkan secara jelas tentang apa yang dimaksud dengan barang bukti. Namun dalam Pasal 39 ayat (1) KUHAP disebutkan mengenai apa-apa saja yang dapat disita, yaitu:

  • Benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana
  • Benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya
  • Benda yang digunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak pidana
  • Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana
  • Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan.

Dengan kata lain, benda-benda yang dapat disita pihak berwajib seperti yang disebutkan dalam Pasal 39 ayat (1) KUHAP dapat disebut sebagai barang bukti yang sah.