Asas Berlaku Surut Didalam Hukum Indonesia

Istilah asas retroaktif atau berlaku surut didalam bahasa latin disebut ex post facto. Pengertian asas berlaku surut adalah suatu hukum yang mengubah konsekuensi hukum, terhadap tindakan yang dilakukan atau status hukum fakta-fakta dan hubungan yang ada sebelum suatu hukum diberlakukan.

Dalam hukum pidana di Indonesia, pelarangan asas ini dicantumkan lagi dalam pasal 1 ayat (1) KUHP : “Tiada suatu perbuatan boleh dihukum, melainkan atas kekuatan ketentuan pidana dalam undang-undang, yang ada terdahulu daripada perbuatan itu”.

Larangan keberlakuan surut ini untuk menegakkan kepastian hukum, yang selayaknya seseorang harus tahu perbuatan apa yang merupakan tindak pidana atau tidak. Pelarangan asas berlaku surut juga disebut dalam pasal 28I undang-undang dasar RI Tahun 1945.

Penyimpangan dari asas Tidak Berlaku Surut “non-retroaktif” dalam KUHP ada dalam pasal 1 ayat (2) KUHP. Yaitu bahwa suatu hukum yang lebih baru dapat berlaku surut, sepanjang hukum yang baru itu lebih menguntungkan bagi tersangka dari pada hukum yang lama.

Pernah penulis mendengar satu pertanyaan dari seorang pejabat DPRD. Pertanyaan apakah asas Berlaku Surut bisa ada dalam hukum perdata seperti perikatan perjanjian ataupun keperdataan lainnya. Untuk pemberlakuan asas ini di dalam keperdataan sampai kini belum diatur. Sehingga penggunaannya dalam Hukum Perdata menjadi perdebatan tersendiri.