Pandemi Corona Diduga Picu Kenaikan Angka Kehamilan

Pemerintah mewaspadai kelahiran tak terkendali pasca pandemi Covid. Atau dikenal dengan fenomena baby boom yang mungkin akan terjadi untuk kali keduanya di Indonesia.

Hal ini terutama di Jawa Timur. Sebab indikasi ke arah sana mulai muncul, meski 1-2 bulan ini belum nampak. Tapi jika pandemi Covid masih berlangsung maka 5-7 bulan ke depan akan nampak.

Selama ini angka kelahiran sudah bisa dikendalikan dengan baik. Tahun 2019 dari angka Kehamilan Tak Diinginkan  (KTD) adalah 14,4 persen dan proyeksi KTD di 2024 adalah 12,2 persen.

Namun di masa pandemi indikasi KTD akan naik mulai terlihat.  Bahkan angka kelahiran bisa naik pasca pandemik. Jika demikian akan memicu kerawanan baru berupa ancaman kesehatan pada anak anak Indonesia yang baru lahir.

Demikian diungkapkan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Provinsi Jawa Timur, Drs Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd, Rabu 3 Juni 2020 kemarin.

Fenomena Baby Boom

Dia berharap fenomena baby boom tidak terjadi di Indonesia. Di sisi lain dia tak bisa menampik indikasi ke arah sana sudah ada. Terutama di Jawa Timur, mengingat angka drop out KB naik.

Sukaryo Teguh Santoso lantas merinci  angka drop out KB di Jawa Timur naik dipicu pandemi Covid. Yang telah memicu problematika multi dimensi tersebut. Di bulan Februari saja tercatat 1,13 persen atau 68.547 orang,  lalu naik di bulan Maret 2020 menjadi 4,68 persen atau sebesar 278.358 orang.

Sedangkan untuk bulan April angka drop out KB di Jawa Timur menjadi 7,07 persen atau angka absolutnya sebanyak 414.788 orang.

Jika angka drop out KB terus naik, bukan tidak mungkin akan memicu angka unwanted pregnancy atau kehamilan tidak diinginkan (KTD) ikut naik.

Adapun penyebab angka drop out KB antara lain karena ketakutan masyarakat PUS atau pasangan usia subur mendatangi layanan kesehatan karena takut Covid.

Fenomena itulah yang dikhawatirkan akan membuat PUS itu subur kembali dan meningkatkan kehamilan.Untuk itu dia berharap masyarakat terutama PUS untuk menunda kehamilan selama pandemi Covid ini. Artinya tidak putus memakai KB.

Apalagi ada risiko tinggi saat hamil di masa pandemi Covid seperti saat ini. Di mana tri semester pertama daya tahan tubuh ibu akan menurun, menyebabkan risiko tertular dan sakit sangat tinggi yang berujung ke kematian.

Dalam lima sampai tujuh bulan ke depan, fenomena baby boom akan terlihat. Tetapi jika kesadaran masyarakat tinggi maka fenomena itu tidak akan terjadi, meski angka drop out KB naik