Perbedaan Kerja Kontrak dan Outsourcing

Kebanyakan mungkin orang menganggap bahwa diantara karyawan outsourcing “alih daya” dan karyawan kontrak itu Sama. Hal ini karena memiliki kemiripan dipekerjakan dalam suatu perusahaan dalam kurun waktu tertentu atau PKWT.

Dikarenakan berbagai alasan tidak sedikit perusahaan yang lebih memilih menerapkan sistem karyawan outsourcing. Mereka merekrut karyawan outsourcing dan kontrak saat sedang membutuhkan tambahan sumber daya manusia (SDM).

Baca Juga : Peraturan Serta Batasan Waktu dan Perpanjangan Kerja Kontrak

Akan tetapi walaupun sama-sama bekerja dalam periode waktu tertentu, karyawan outsourcing dan kontrak tetap memiliki perbedaan yang wajib diketahui. Keduannya diatur dalam UU Ketenagakerjaan no 13 tahun 2003.

Beberapa hal yang membedakan antara  karyawan outsourcing dan karyawan kontrak adalah dari segi sistem kerja dan jenis pekerjaan. Karyawan kontrak direkrut langsung oleh sebuah perusahaan untuk bekerja dengan adanya sistem kontrak kerja.

Dimana artinya adalah perusahaan mengadakan hubungan kerja dengan karyawan kontrak untuk suatu pekerjaan yang berlangsung selama periode waktu tertentu. Sedangkan karyawan outsourcing proses rekrutmen dilakukan oleh pihak ketiga. Artinya karnyawan outsourcing bukan bekerja pada perusahaan dimana ia bekerja tetapi pada perusahaan penyalur.

Selain adanya dalam perbedaan sistem kerjanya antara karyawan kontrak dan outsourcing, perbedaan lainnya ada pada jenis pekerjaan. Jenis pekerjaan yang bisa di outsourcing lebih terbatas, seperti Satpam, Cleaning Service dan lainnya, yang bukan pekerjaan dari core utama perusahaan.

Untuk lama kontrak kerja keduanya sama yakni maksimal adalah dua tahun. Kontrak kerja juga dapat diperpanjang satu kali brarti total kontrak kerja yang diperbolehkan UU adalah 4 tahun. Bila dilanggar semisal perpanjangan lebih dari dua kali maka otomatis pekerja akan menjadi karyawan tetap.