SBY Begawan Ekonomi Makro Indonesia

Berbicara tentang ekonomi Makro di Indonesia maka kita tidak bisa melupakan nama Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY. Sebab di Era SBY lah Indonesia mampu banyak berbicara secara ekonomi berdasar data. Di Era inilah Indonesia pertama kali masuk dalam G20 atau Top 20 ekonomi Dunia, melunasi utang pada IMF dan memoderenisasi alutista TNI terbesar setelah Era Soekarno.

SBY menjabat Presiden Indonesia pada 2004 dan ditinggali berbagai masalah selepas masa Orde Baru ke Orde Reformasi. Banyaknya masalah seperti politik, stabilitas, terorisme berujung pada ekonomi Indonesia yang turun naik.

Tentu kita masih ingat setelah Reformasi dan sebelum Era SBY hampir tiap tahun ada pemboman oleh teroris diiringi stabilitas politik yang carut marut seperti adanya masalah GAM. Hebatnya SBY mampu mengatasinya dengan tepat dan menyuguhkan pertumbuhan ekonomi antara 5% – 6% membawa ekonomi Indonesia ke 20 besar dunia. Dengan ini maka SBY pantas disebut begawan Ekonomi makro Indonesia.

SBY sadar ekonomi makro bersandar pada daya beli konsumsi entah itu Internasional maupun Nasional. Sebab tanpa daya beli produktifitas barang tidak ada artinya, dan memastikan daya beli konsumsi ialah dengan memastikan konsumsi Nasional. Karena jika berfokus internasional tentu kemampuan RI terbatas, karena masing masing negara tentu melakukan proteksi Ekonomi yang membatasi pangsa “Eksport” Internasional. Meski begitu eksport juga dijaga tetap surplus pada era SBY.

SBY paham Indonesia negara besar dan subur bukan negara kecil semacam Singapura yang harus bergantung pada Asing. Tentunya konsumsi dalam negeri cukup aman untuk menumbuhkan ekonomi dan mampu memproduksi berbagai macam hal pokok untuk memenuhinya. Maka strategi SBY ialah menumbuhkan daya beli nasional dengan cara subsidi terbatas dan menggenjot UMKM.

Subsidi Tepat Bukan Membakar Uang

Subsidi ala SBY bukan membakar uang karena bukan subsidi jor joran macam Nauru. SBY hanya mensubsidi pada hal baku seperti bahan bakar, pendidikan SD SMP digratiskan dan kesehatan, bukan semua hal. Karena dengan subsidi ini ekonomi akan jalan, Investasi masuk dan berujung pada naiknya pemasukan pajak negara. Tentu hal ini bukan membakar uang bukan, karena ujungnya negara memperoleh pemasukan lebih dari pajak baik transaksi maupun penghasilan.

SBY juga sangat hati-hati dalam berhutang maupun berbelanja dan ingat bahwa dana Indonesia “Sangat Terbatas”. Pembangunan Infrastruktur dibangun pada periode ke 2 karena pada periode 1 difokuskan daya beli masyarakat. Tol laut bali, Jalan tol Bawen, Jalan lingkar Ambarawa, Peremajaan bandara di Papua, Kelok 9 adalah sebagian kecil pembangunan yang dilakukan SBY. Meski beberapa pembangunan tersebut rampung pada era setelahnya karena membangun Infrastruktur tentu tidak jadi dalam satu malam layaknya negeri dongeng.

SBY dengan kekuatan ekonomi Indonesia yang dipimpinnya juga sanggup mengadakan kerjasama pembangunan infrastruktur Alutista. Kerjasama Pesawat tempur IFK, pembuatan tank medium Pindad FNSS Turki, kapal selam PAL Korea semua dapat dilakukan di Eranya. Padahal ToT industri pertahanan adalah satu hal sangat sulit.

Dengan semua hal yang dapat dilakukan sang Begawan Ekonomi Makro SBY telah membuktikan Ekonomi Indonesia yang Sesungguhnya. Semoga semua yang telah dilakukan SBY dapat ditingkatkan oleh para penerusnya dalam kenyataan bukan sekedar retorika optimisme sebatas impian.