Penembakan FPI Pelanggaran HAM atau Bukan Dapat Dibuktikan

Penembakan yang menewaskan 6 anggota FPI pengawal HRS masih menjadi perbicangan misteri hangat di masyarakat. Banyak versi yang beredar dimasyarakat baik versi polisi maupun FPI yang perlu dibuktikan kebenarannya. Serta menariknya disaat terjadinya penembakan kebetulan pula CCTV tol di tempat kejadian dalam keadaan mati.

Lantas timbul pertanyaan dimasyarakat bagaimana pembuktiannya apakah penanganan kriminal murni atau palah pelanggaran HAM berat, hal ini penting karena menyangkut nyawa 6 orang. Bila terbukti polisi membela diri maka itu merupakan penanganan kriminal, namun bila bukan bisa jadi pelanggaran HAM.

Pada hakikatnya melakukan pembelaan diri hingga menyebabkan seseorang meninggal dapat dikategorikan bukan pidana, bahkan bila pelakunya sipil biasa bukan aparat. Namun undang – undang mengatur syarat tertentu yang ketat. Hal ini seperti tertuang pada pasal 49 KUHP.

Sekalipun CCTV Ditempat Kejadian Mati Masih Dapat Dibuktikan

Kemudian bagaimana cara membuktikan kejadian sesungguhnya bila CCTV ditempat kejadian mati ? Sebetulnya ada beberapa cara diantaranya uji balistik dan keberadaan saksi. Uji balistik dapat membuktikan seberapa dekat peluru ditembakan kesasaran, serta sedang dalam posisi apa sasaran tersebut dan juga jenis senjata yang digunakan. Dengan begitu data uji balistik dapat dikroscek dengan keterangan yang ada, seperti apakah benar terjadi baku tembak atau tidak.

Baca juga : Pengertian Hukum Hal Penting Yang Belum Tentu Mewakili Keadilan

Lalu saksi juga dapat dicari apalagi kejadiannya pada hari minggu di tol yang ramai lalu lintas. Pencarian saksi dapat dilakukan dari rekaman CCTV lain yang hidup, yakni mencari kendaraan yang kemungkinan melintasi pada waktu dan tempat kejadian.

Caranya mencocokan waktu kejadian dengan kendaraan yang masuk dan memiliki kemungkinan melintasi tempat waktu kejadian berdasarkan CCTV lain seperti yang ada di gerbang toll. Setelahnya dapat mencari nomor kendaraan dan meminta keterangan dari para penumpang juga pengemudinya.

Dengan catatan seluruh proses dari penyidikan baik uji balistik, pemeriksaan saksi, dan bukti pendukung lain dilakukan oleh pihak independen. Ini agar rasa kepercayaan pada penanganan kasus tetap ada. Jadi pembuktian kejadian tewasnya 6 anggota FPI ini bukanlah hal mustahil. Tempat kejadian di tol seharusnya akan memudahkan penyelidikan dan menghapus keraguan.

Hal ini sebaiknya dilakukan pemerintah menginggat kepercayaan masyarakat menjadi konsekuensinya. Jangan sampai akhirnya terjadi balas dendam. Karena rasa tidak percaya dikalangan masyarakat pada pemerintah dan penegak hukum, bisa berujung pada kemungkinan buruk. Seperti masyarakat mencari keadilan versinya sendiri yang berakhibat pada meningkatnya terorisme, perang sipil dan bahkan perpecahan bangsa.