Apa Bermimpi Dapat Dipidanakan Secara Hukum ?

Halo nama saya Salam seorang mahasiswa di Jawa Tengah, Saya ingin menanyakan prihal apakah bermimpi dapat dipidanakan? Saya juga ingin bertanya pandangan secara hukum tentang kasus Haikal Hassan itu seperti apa? Lalu pertanyaan penyidik Polisi tentang apa bukti mimpi dan bagaimana cara membuktikannya? Terimakasih

Jawaban :

Terimakasih telah bertanya, pertama saya ingin menjelaskan bahwa hukum bukan hanya yang hukum tertulis “positif” semata tapi ada hukum lainnya. Kali ini saya akan menjelaskan secara teknis hukum positif saja bukan hukum secara keseluruhan.

Pada hakikatnya mimpi tidak diatur dalam pasal apapun di hukum positif Indonesia. Jika ada seseorang bermimpi apapun itu adalah hal pribadi dan tidak dicampuri hukum. Akan tetapi yang menjadi masalah ialah ketika ia menceritakan mimpi.

Karena saat diceritakan maka bukan mimpi yang dinilai tetapi cerita yang disampaikan menjadi kuncinya. Jika ia menceritakan mimpi yang baik dan tidak mengganggu orang lain maka tidak masalah. Tetapi jika dia menceritakan mimpi yang tidak seharusnya diceritakan maka akan dapat menjadi masalah.

Sebagai contoh mimpi yang tidak layak diceritakan adalah mimpi “Kotor” atau sering disebut mimpi basah. Misal seseorang bermimpi basah dengan gambaran bersama artis, saat ia menceritakan mimpinya maka ia dapat mengganggu kenyamanan artis tersebut Itulah yang dilaporkan secara hukum bisa dijadikan unsur pidana, entah pencemaran nama baik Pasal 310 ayat (1) KUHP, UU ITE maupun pidana lainnya. Tergantung pada konteks bagaimana kejadian peristiwa.

Jadi dalam hal ini sekali lagi bukan mimpi yang dipidanakan. Karena memang tidak ada aturan hukum dan bila mimpi dapat dipidanakan bagaimana jika ada orang bermimpi menjadi presiden, apakah juga akan dikatakan makar ? Tentunya Tidak Bukan !

Kasus Pidana Mimpi Haikal Hassan

Lanjut ke persoalan Haikal Hassan yang cukup viral. Sepanjang pengetahuan saya Haikal Hasan dalam menceritakan mimpinya bertemu Nabi. Haikal Hassan tidak ada kata yang bisa berujung pidana dan masih dalam konteks sangat aman. Pemeriksaan juga menyatakan tujuan Haikal menceritakan mimpinya untuk “menghibur” saja, jadi secara mens rea juga tidak terbukti adanya unsur pidana.

Baca juga : Pengertian Hukum Hal Penting Yang Belum Tentu Mewakili Keadilan

Mengenai beredarnya berita berkaitan pertanyaan penyidik “apa bukti Haikal Bermimpi ?” Memang ini pertanyaan yang cukup aneh. Jika benar ada pertanyaan penyidik seperti itu, maka bukanlah pertanyaan yang relevan dikarenakan belum ada alat untuk menguji itu.

Akan tetapi bila akhirnya kasus “Mimpi” tersebut tetap memidanakan Haikal Hassan maka itu bukan masalah Hukum Positif tetapi hukum yang lain. Hukum lain yang secara luas dan sangat kompleks memerlukan filsafat hukum untuk mengkajinya. Tidak akan saya bahas hal itu dalam tulisan kali ini tentunya.

Demikian jawaban dari kami semoga dapat sedikit memberi gambaran dan penjelasan !