Munculnya KLB Ajaib Demokrat Serta Lemahnya SBY dan AHY

Munculnya KLB partai Demokrat secara ajaib cukup mengagetkan berbagai pihak. Disebut ajaib Pasalnya KLB tersebut tidak sesuai dengan AD/ART Partai yang disahkan Kemenkumham, kemudian ijin penyelenggaraan yang tidak ada, serta cepatnya KLB berlangsung yang tidak sampai 1 jam.

Menurut kami sepertinya KLB ini adalah uji coba respon kepada pihak SBY dan AHY. Layaknya Perpres tentang Miras ataupun UU Cipta Kerja yang berubah-ubah. Bila respon lemah dan diplomatis maka mungkin berlanjut disahkan SK Kemenkumham, bila sebaliknya maka tentu tidak akan disahkan. Tapi seperti yang sudah diduga respon cukup lemah dan pidato yang bertele-tele tersaji.

Hal ini sudah terlihat saat KLB yang tidak berizin, ketika Gubernur mengijinkan pembubaran KLB respon SBY dan AHY palah memilih membuat Pidato nan puitis ! Bukan respon Sekelas mantan presiden RI, yang seharusnya Powerfull nan percaya diri.

Sehingga lawan akhirnya meremehkan, dan berpikir apa yang bisa dilakukan pihak SBY ? Paling berpidato dan berpuisi saja! Nyatanya seperti yang sudah diketahui benar pidato panjang puitis lemah yang disampaikan.

Respon SBY dan AHY Harusnya Keras dan Percaya Diri

Seharusnya bila tidak melakukan pembubaran SBY dan AHY merespon Keras. Karena SBY mantan presiden RI yang punya banyak Loyalis, dan masih sangat dicintai masyarakat. Respon seperti “Jika berani disahkan dan tidak sesuai hukum yang berlaku, Kami yang akan meluruskan Hukum kembali” yang harusnya disampaikan. Toh Kondisi sosial Ekonomi RI sedang tidak baik, dan banyak oposisi yang senasib bisa diajak berkerjasama.

Baca Juga : Bisa Bebas Dengan Alasan Ini, Gisel Pilih Jujur

Dengan adanya respon tegas maka Kemenkumham juga akan berpikir dengan keras dan mungkin tidak akan mengesahkan. Karena hukum bukan cuma soal hukum positif saja tapi lebih dari itu.

Jika terjadi Pihak Lawan “KLB Ajaib” cuma bisa menggugat Kepengurusan Demokrat AHY di PTUN, dan kemungkinan dikabulkan juga sedikit. Karena perlu diingat, normalnya yang dinilai dalam Hukum Perdata adalah “Formalitas” dan itu dimiliki pihak AHY.

Tapi yang terjadi palah sekali lagi sebaliknya. Respon lemah nan melow khas SBY yang terlihat sangat tidak percaya diri ! Jadi menurut kami KLB palah akan disahkan, lalu satu persatu DPC dan DPD resmi Demokrat akan memilih kubu KLB yang ajaib, hilanglah Demokrat dari tangan AHY. Bahkan mungkin setelah kehilangan partai, bisa saja kasus Ibas yang kini ketua Fraksi DPR Demokrat kembali diungkit, padahal Ibas tidak bersalah dan hanya urusan politis.

Terlepas dari persoalan tentang KLB, ini juga menjawab pertanyaan dipikiran penulis kenapa Era Kepresidenan SBY begitu lemah diperiode ke dua. Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY adalah Negarawan yang baik tapi bukan Politisi.

Pada periode pertama SBY mengurusi Birokrasi dan Urusan Negara, sementara Jusuf Kalla mengurusi Politik sehingga Negara menjadi maju. Buktinya selepas JK dan digantikan Wapres Boediono yang bukan politikus, situasi politik selalu memanas membuat sibuk pemerintah.