Pengertian Istilah Posita dan Petitum

Banyak kata yang juga merupakan istilah-istilah yang dikenal dalam praktik hukum acara perdata. Diantaranya yang sering kali disebut adalah posita dan petium. Untuk itu pengertian posita dan petium akan kami bahas berikut ini.

Posita disebut juga dengan Fundamentum Petendi yaitu bagian yang berisi dalil yang menggambarkan adanya hubungan yang menjadi dasar atau uraian dari suatu tuntutan. Untuk mengajukan suatu tuntutan, seseorang harus menguraikan dulu alasan-alasan atau dalil sehingga ia bisa mengajukan tuntutan seperti itu.

Posita/Fundamentum Petendi yang dianggap lengkap memenuhi dua unsur yaitu dasar hukum (rechtelijke grond) dan dasar fakta (feitelijke grond).

Sedangkan pengertian Petitum berisi tuntutan apa saja yang dimintakan oleh penggugat kepada hakim untuk dikabulkan. Selain tuntutan utama, penggugat juga biasanya menambahkan dengan tuntutan subside atau pengganti.

Seperti menuntut membayar denda atau menuntut agar putusan hakim dapat dieksekusi. Walaupun nantinya akan ada perlawanan di kemudian hari yang disebut dengan uitvoerbar bij voorrad.

Supaya gugatan sah, dalam arti tidak mengandung cacat formil. Maka gugatan harus mencantumkan petitum gugatan. Dimana Petitum berisi pokok tuntutan penggugat yang menjadi pokok tuntutan yang dinyatakan dan dibebankan kepada tergugat. Petitum dan posita disebut pada Pasal 118 Reglemen Indonesia yang Diperbaharui (“HIR”).