Penarikan Hibah Yang Telah Diberikan


Hibah adalah pemberian oleh seseorang kepada orang lainnya secara cuma-cuma.Namun dewasa ini banyak permasalahan mengenai hibah, terutama soal hibah yang ingi ditarik/diminta kembali. Banyaknya persoalan hibah seperti karena keluarga tidak setuju ataupun masalah lainnya. Nahsebelum saya membahas apakjah hibah bisa ditarik kembali atau tidak saya akan membahas terlebih dahulu syarat sah hibah .

Mengenai apa hibah itu secara hukum keabsahannya , ini diatur dalam KUHPerdata :

Pasal 1666 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“BW”) : bahwa hibah merupakan pemberian oleh seseorang kepada orang lainnya secara cuma-cuma dan tidak dapat ditarik kembali, atas barang-barang bergerak maupun barang tidak bergerak .

Pasal 1682 KUHPerdata:

“Tiada suatu penghibahan pun kecuali termaksud dalam Pasal 1687 dapat dilakukan tanpa akta notaris, yang minut (naskah aslinya) harus disimpan pada notaris dan bila tidak dilakukan demikian maka penghibahan itu tidak sah.”

Pasal 1683 KUHPerdata:

“Tiada suatu penghibahan pun mengikat penghibah atau mengakibatkan sesuatu sebelum penghibahan diterima dengan kata-kata tegas oleh orang yang diberi hibah atau oleh wakilnya yang telah diberi kuasa olehnya untuk menerima hibah yang telah atau akan dihibahkannya itu.

Maka secara garis besar hibah yang telah disahkan oleh notaris tidak dapat ditarik kembali. Akan tetapi bagi Muslim penarikan hibah tersebut dimungkinkan, Yakni hibah dari orang tua kepada anaknya. Sebab dalam hukum Islam yang diakui di Indonesia yang tertuang dalam kompilasi hukum Islam, Pasal 212 berbunyi : Hibah tidak dapat ditarik kembali, kecuali hibah orang tua kepada anaknya. Maka dalam hal khusus ini hibah dapat ditarik kembali.


Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *