Kemenangan Jokowi atau Prabowo

Tahun politik sudah tiba, hal ini dimulai saat pencalonan presiden untuk 2019 dan penetapan siapa saja calon tersebut. Sama dengan 2014 ternyata di pilpres 2019 calon masih sama, yakni Jokowi dan Prabowo. Namun keadaan dari pilpres 2014 sendiri nampaknya cukup jauh berbeda. Penulis akan membahas ini senetral mungkin.

Sedikit membahas peta politik terlihat bahwa Jokowi mulai melemah tidak seperti awal kemunculan di 2014 disisi lain pendukung Prabowo menjadi lebih solid. Hal ini terlihat saat Pilkada di 2018 di mana calon dari kubu Prabowo tidaklah terkenal namun mampu membuat kejutan. Yang paling mencolok ialah di Jawa barat serta Jawa Tengah, Bahkan di Jateng Sudirman said dengan hebatnya mampu mengimbangi Ganjar Pranowo sang pertahana dengan dana pas-pasan.

Memang isu Ekonomi , Politik , Hukum , Serta yang paling menonjol agama menghajar kubu Jokowi. Jujur dari segi ekonomi saya sendiri agak kecewa. Karena awal kemunculan Jokowi memberikan harapan baru pembangunan yang merata sampai ke Papua, sayang pengendalian pembangunan kurang dilakukan. Pembangunan infrastruktur memang salah satu hal utama namun bukanlah satu-satunya. Tidak serta merta jalan atau jembatan dibangun lalu rakyat menjadi makmur, butuh hal lain untuk menjadikan kemakmuran rakyat disamping Infrastruktur.

Terlalu masifnya pembangunan menjadikan harga properti naik, kesenjangan sosial yang terus bertambah bila tanpa memperhatikan dampak sosial. Gampangnya apa rakyat pedalaman papua sanggup bertarung modal melawan para pemodal dari kota saat infrastruktur telah dibangun, atau akan kalah seperti Indian lawan Koboi di Amerika tapi versi Ekonomi  ? disisi yang lain pembangunan tidak serta merta menambah pertumbuhan ekonomi secara instan karena butuh waktu yang cukup lama.

Hal ini juga berpengaruh terhadap hutang dan neraca perdagangan. Banyak pembangunan yang dibiayai dengan hutang dan bahannya pun masih impor, sehingga utang bertambah dan terjadi devisit perdagangan. Karena menurut saya harusnya pada tahun ketiga pembangunan mulai dikurangi dan dilakukan penyesuaian , namun ternyata tidak. Hasilnya pertumbuhan ekonomi belum terlihat naik palah daya beli masyarakat tergolong stag karena pencabutan subsidi secara drastis dan cepat.

Tapi Jokowi nampaknya mulai menyadari dan mulai melakukan hal berbeda, hal ini dilihat dari instruksi pengkajian impor untuk perdagangan serta tetap menahan harga bbm walau pun sebenarnya telah naik. Namun hal ini agak terlambat ekonomi sudah meriang, langkah yang dilakukan tentu benar dan akan mengembalikan kondisi ekonomi menjadi stabil. Namun secara tidak langsung karena sudah meriang ekonomi maka akan dijadikan bahan serangan bagi lawan politik.

Disisi politik penunjukan Kyai Ma’ruf Amin adalah hal yang sangat tepat. Jokowi sadar serangan dari sisi SARA kepada dirinya akan dapat dibendung dengan penunjukan Sang Kyai, karena adalah hal yang bodoh jika lawan politik berani menyerang atau menghina Sang Kyai. Mirip dengan cara Megawati menghadapi SBY di tahun 2004 namun dengan situasi berbeda.

Disisi lain Prabowo juga melakukan manuver politik yang sangat hebat dengan menunjuk Sadiaga Uno. Hal ini karena dalam politik di Indonesia Logistik sangatlah penting. Orang hebat tanpa branding akan terlihat bodoh karena tidak akan terlihat. Sandi yang memiliki kekayaan melimpah akan sanggup mengimbangi dana dari kubu Jokowi, yang disokong banyak pendukung yang hebat seperti Surya Paloh dengan jajaran medianya juga sang pucuk pimpinan branding Erick Thohir.

Namun jujur Prabowo sendiri masih mempunyai masalah klasik, yakni masalalu. Prabowo bukanlah orang baru dalam dunia politik  Indonesia hal ini bagus tetapi bisa juga menimbulkan kekurangan. Dengan tuduhan pelanggaran HAM berat, disertai belum ada pembuktian secara hukum sampai sekarang berakhibat ke stagnannya pertumbuhan pendukung. Memang pendukung semakin solid bisa dibilang pemilih di 2014 yang memilih Prabowo akan memilih Prabowo kembali. Tapi pertumbuhan pemilih baru juga tidaklah signifikan. Menjadi PR tersendiri bagi tim untuk menjelaskan serta membranding ke publik bahwa Prabowo memang tidak terlibat masalah HAM. Lantas kemenangan siapakah Jokowi atau Prabowo  ?

Pemilu serta Pilpres 2019 tentu akan seru, karena kedua kubu sama-sama kuat tidak ada kekuatan yang menonjol. Branding atau pencitraan yang tepat juga penempatan waktu yang hebat dalam kampanye akan menentukan. Karena semua tergantung pada tim, bisa dibilang pemenang PIlpres 2019 belum bisa diprediksi atau ditentukan sekarang.

 


You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *