Tanah Petok Merah dan Baturan Tanah Adat di Ambarawa

 

Tanah petok merah dan tanah baturan adalah sebutan tanah adat di Ambarawa. Hal ini unik karena peristiwa terjadinya tanah ini adalah pada zaman Belanda namun dengan cara sesuai kaidah modern. Keunikan tanah ini lainnya adalah pada tidak terdatanya di Perpajakan maupun Dinas Aset Pemda. Sehingga tanah ini pemilik tidaklah harus membayar pajak bumi dan bangunan tetapi diakui kepemilikannya.

Sejarah tanah ini bermula saat Belanda ingin membangun bendungan di Rawa Pening. Bendungan di Rawa Pening ini penting karena konon kabarnya mengontrol arus air sampai ke Demak, sehingga mencegah kekeringan maupun banjir. Setelahnya bahkan pernah dimanfaatkan sebagai PLTA. Namun karena pembangunan bendungan ini pada musim hujan berdampak pada desa dan tanah pertanian disekitar wilayah yakni banjir.

Kemudian dengan inisiatif tertentu Belanda mengganti tanah tersebut dengan tanah lain yang kurang subur dan masih hutan pada saat itu sebagai konpensasi, namun tanah banjir itu tetap menjadi milik warga namun jika terjadi banjir warga tidak boleh menuntut apapun pada Belanda. Singkat cerita penggantian tanah tersebut hanya sebagai konpensasi banjir.  Tentu jika dilihat dari fakta ini penggusuran oleh Belanda lebih manusiawi dibanding pada Era -era Setelahnya. Warga menjadi memiliki tanah baru walau tidak lebih bagus tetapi tidak kehilangan hak atas tanah lama.

Nah itulah salah satu keunikan sejarah bidang agraria pertanahan di Indonesia khususnya kota Ambarawa. Tanah petok merah dan baturan menjadi salah satu contoh balutan adat di dunia agraria Indonesia yang masih lestari. Serta sejarah penggusurannya menjadi salah satu contoh konpensasi terbaik yang bahkan terjadi di era penjajahan. Sejarah ini bisa dijadikan suatu referensi untuk pemerintah bertindak di masa depan.


Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *