Usangnya Sri Mulyani dan Para Menteri Yang Jadi Beban Jokowi

Baru saja Bu Sri Mulyani sebagai Menkeu mendapat berbagai penghargaan dari luar negeri. Hal yang membanggakan sekaligus ironi bagi Indonesia. Hal ini karena raport Menkeu Sendiri tidak terlalu bagus, dari hutang luar negeri melojak, beban bunga yang kian meninggi serta tergerusnya nilai tukar rupiah. Bukan rahasia lagi bahwa pertumbuhan hutang kita meroket jauh melampaui pertumbuhan ekonomi.

Penghargaan memang bagus, tapi jangan membuat kita terbuai sebab siapapun bisa memberi penghargaan. Bahkan PSI partai baru yang belum menampakan kinerja sudah memberi penghargaan ke berbagai Pihak. Yang paling aneh ialah penghargaan sebagai penjual SUN untuk kepentingan lingkungan, menurut kami belumlah perlu karena tanpa hutang masih bisa ditangani. Lingkungan Indonesia tidak ada kerusakan yang parah akhibat Industri kecuali Lapindo dan Freeport. Sedangkan freeport pun masih jalan sehingga tentu perbaikan lingkungan dilakukan setelah pabrik ditutup tentunya buakan saat ini.

Jangan hanya untuk penghargaan lantas mengabaikan kepentingan pokok. Utang Indonesia juga akhir-akhir ini mebengkak menembus angka lebih dari 4000 T dan rasio tembus 30% PDB. Hal yang membuat saya terkejut ialah pernyataan beliau yang membandingkan kita dengan Jepang dan AS yang rasio hutangnya melebihi 100%.

Padahal secara Daya tawar, kondisi Industri dan Perkapita penduduk jauh berbeda ! Tanpa adanya daya tawar dari komonditas ekonomi Indonesia rentan jebakan utang, diberi utang lantas diembargo tentu akan membuat ekonomi koleps. Kurangnya daya tawar juga berpengaruh pada diplomasi bila gagal bayar, sebut saja Sri Lanka yang harus merelakan pelabuhan diambil China. Belum lagi perkapita kita yang masih rendah, menunjukan rakyat masih butuh subsidi agar ekonomi tumbuh. Beda dengan negara berpenghasilan perkapita tinggi, subsidi dari negara dapat diminimalkan sehingga beban negara berkurang.

Belum lagi usaha mencetak Startup, Startup itu umumnya membakar Uang beda dengan perusahaan pada umumnya bahkan untuk sekelas Unicorn Gojek. Bu Sri sang Menkeu bukanlah orang gagal dan bodoh saya tahu itu. Beliau adalah orang dengan kemampuan yang sangat bagus bahkan dalam hal Bank Century saya mendukung keputusan Beliau itu adalah hal yang tepat diwatu itu. Orang yang menyalahkan beliau karena Century adalah orang yang bernuasa politis semata.

Namun tanpa mengurangi rasa hormat sang Menkeu telah Usang. Mirip Michael Essien yang sudah Usang termakan usia di Persib yang gagal di Liga 1 padahal kemampuan sudah teruji di liga top eropa. Sama juga seperti SBY diakhir periode yang hampir membuat blunder dengan mega proyek jembatan Selat Sunda dan wajib militernya. Padahal disisi lain infrastruktur lain lebih membutuhkan dana, dan perang modern bukan soal jumlah semata tapi lebih keteknologi. Beda bu Menkeu dan SBY, ialah SBY tertolong masa pensiun sehingga tidak jadi melaksanakan niat dan tidak merusak namanya sedangkan bu Sri Mulyani tidak. Bu Sri pada periode ini banyak melakukan Blunder.

Hal yang wajar manusia menjadi menua daan pemikiran menjadi Usang karena semua manusia di dunia, Manusia disuatu titik akan mengalaminya. Bahkan dalam jurnal medis rata-rata otak manusia akan mengalami antrofi setelah 25 tahun dan menjadi ber volume 75% dari semula pada usia 70 tahun dengan alami. Pembahasan ini bukan karena membenci beliau tapi kritik terhadap Kinerja beliau, bahkan keluarga saya adalah pengagum kecemerlangan Ayah beliau yang juga orang dekat pemerintahan di Jawa Tengah dahulu, serta kecemerlangan Beliau Bu Sri Mulyani pada masa SBY.

Mentri – mentri lain pun tidak terlalu cemerlang dan membebani, sebut saja kementrian BUMN yang kini mengalami penurunan kinerja dan terjerat hutang. Kementrian Pertahanan yang tidak fokus dan selalu ingin wajib militer yang terkesan jadul, padahal domain perang sekarang bertumpu pada teknologi apalagi kita negara kepulauan. Memang Pak Menhan Orang Hebat di TNI pada masanya, namun sepertinya beliau juga termakan waktu.

Wajib militer memerlukan biaya besar, resiko keselamatan besar contoh Singapura lebih dari 5 kematian dalam program Wamilnya dalam 1 tahun terakhir, belum lagi kemungkinan munculnya gejolak ekonomi. Sebab umum nya peserta wamil dinegara lain nyaris tanpa digaji atau digaji seperlima UMR buruh. Dinegara yang pendapatan perkapita tinggi dan ekonomi mapan tentu bukan masalah namun bila di negara kita tentu akan timbul gejolak.

Walau disisi keamanan Era Jokowi mengalami peningkatan Polri patut diapresiasi. Pada sektor demokrasi Jokowi juga mampu menjaga walau ada sedikit penurunan dari era SBY, namun dengan banyaknya ketidak fokusan kementrian membuat Indonesia seperti Banyak Misi namun tanpa Visi yang Jelas. Modal keamanan dan demokrasidalam negeri memang modal sangat penting untuk kemajuan, namun jika itu saja maka tidak cukup. Bila nantinya terpilih kembali besar harapan Jokowi melakukan evaluasi, agar para menteri akhirnya tidak menjadi beban bagi sang Presiden Jokowi.


Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *